endarwati

Tuesday, October 04, 2005

Kaum Muslim Sambut Ramadan

RAMADAN memang bulan suci. Kehadirannya senantiasa ditunggu- tunggu kaum muslimin dan muslimat. Tak heran jika kemudian masjid- masjid, mushola, pondok pesantren bahkan kampus-kampus telah menyiapkan serangkaian acara. Itu artinya, kaum muslim siap menyambut kehadiran bulan penuh hikmah itu.

Majelis Takmir Masjid Al Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), misalnya, telah membentuk panitia Ramadan di Kampus (RdK) 1421 H pada 11 Oktober lalu. Mereka menyelenggarakan program UKKI berupa bazar dan pesantren komputer yang dibuka sejak 20 November lalu. Kegiatan Majelis Takmir tersebut juga digabung dengan kegiatan lain yang berasal dari UKKI, FIS, FMIPA, FIP, FT, dan FBS.

Menurut, Ketua Panitia RDK, Ari Wahyono, yang ditemui Bernas, Rabu (22/11), di Sekretariat Takmir Masjid Al Mujahidin UNY, panitia sudah menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut dan mengisi Ramadan. Bahkan sebagian merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan dari tahun ketahun.

Selain mengadakan ceramah Tarawih dan Kuliah Subuh, Masjid Kauman Yogya juga menggelar dialog interaktif yang direlai RRI dan buka puasa bersama. Rencananya dialog interaktif akan menghadirkan tokoh-tokoh pembicara antara lain Drs H Sunadi Sahuri, H Umar Budi Haryo LcMA, Drs H Muhwaznan dan masih banyak lagi.

Sementara untuk buka puasa bersama, Panitia Kegiatan Ramadan 1421 H Masjid Kauman menyediakan makanan berbuka untuk 500 orang. "Tapi biasanya orang yang datang selalu lebih dari 500. Untuk antisipasinya, panitia masih menyediakan makanan kecil, seperti roti," tutur Sekretaris Panitia, Drs Rahman Kusuma yang ditemui Bernas, Rabu (22/11) di kediamannya.

Jamaah Shalahuddin UGM, seperti tahun-tahun sebelumnya, juga akan menggelar serangkaian kegiatan yang dibingkai dalam Ramadan di Kampus (RdK). "Kita sudah persiapkan beberapa bulan yang lalu untuk kegiatan RdK tahun ini. Situasi sosial, politik dan ekonomi bangsa yang sekarang masih compang-camping, menggugah kami untuk bisa lebih memaknai hakikat bulan Ramadan kali ini. Maka tema yang kita bawa untuk RdK tahun lebih pada perbaikan spriritualitas, perbaikan ukhuwah dan kebersamaan meraih hikmah bulan Ramadan," kata Ketua Umum RdK UGM, Budhi Handoyo Nugroho saat ditemui Bernas, Rabu (22/- 11).

Sejumlah kegiatan yang sudah dirancang panitia RdK UGM antara lain Pesantren Trendy Anti Narkoba (Patron) dengan sasaran para pelajar SMU se-DIY, Peragaan Busana dan Dialog Muslimah (Rasadima) dengan menghadirkan Ratih Sanggarwati dan Novia Kolopaking. Selain itu, RdK UGM juga menggelar Ramadan Expo (Ramex), Festival Seni Islam (FSI) se-DIY dan Jateng dan Olimpiade Taman Pendidikan Alquran (TPA) se-DIY

Friday, September 30, 2005

KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KONSERVASINYA DI INDONESIA

Keanekaragaman hayati merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat, yang terlihat pada berbagai tingkatan persekutuam makhluk hidup yaitu tingkatan ekosisitem, tingkatan jenis dan tingkatan genetik. Keanekaragaman hayati menurut UU NO 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara mahluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain, serta komplek-komplek ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keaneka ragaman dalam spesies, antara species dengan ekosisitem. Berdasarkan definisi di atas ada 3 elemen keaneka ragaman hayati yaitu, keaneka ragaman ekosisitem, keaneka ragaman jenis dan keaneka ragaman genetik.

Manfaat Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Keanekaragaman hayati merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia. Manfaatnya antara lain adalah (1) Merupakan sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup bagi umat manusia, karena potensial sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan serta kebutuhan hidup yang lain (2) Merupakan sumber ilmu pengetahuan dan tehnologi (3) mengembangkan sosial budaya umat manusia (4) Membangkitkan nuansa keindahan yang merefleksikan penciptanya.

Penyebaran Sumberdaya Hayati di Indonesia

Dipandang dari segi biodiversitas, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan. Negara ini terdiri dari beribu pulau, berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta terletak di katulistiwa. Dengan posisi seperti ini Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Indonesia dengan luas wilayah 1,3% dari seluruh luas muka bumi memiliki 10% flora berbunga dunia, 12% mamalia dunia, 17% jenis burung dunia, dan 25% jenis ikan dunia.

Penyebaran tumbuhan, Indonesia tercakup dalam kawasan Malesia, yang juga meliputi Filipina, Malaysia dan Papua Nugini. Kawasan ini ditentukan berdasarkan persebaran marga tumbuhan yang ditandai oleh 3 simpul demarkasi yaitu (1) Simpul selat Torres menunjukkan bahwa 644 marga tumbuhan Irian Jaya tidak bisa menyeberang ke Australia dan 340 marga tumbuhan Australia tidak dijumpai di Irian Jaya. (2) Tanah genting Kra di Semenanjung Malaya merupakan batas penyebaran flora Malesia di Thailand. Demarkasi ini menyebabkan adanya 200 marga tumbuhan Thailand yang tidak dapat menyebar ke kawasan Malesia, dan 375 marga Malesia tidak dijumpai di Thailand. (3). Simpul di sebelah selatan Taiwan menjadi penghalang antara flora Malesia dan Flora Taiwan.. Adanya demarkasi ini menyebabkan 40% marga flora Malesia tidak terdapat di luar kawasan Malesia dan flora Malesia lebih banyak mengandung unsur Asia dibanding unsur Australia. Pecahnya benua selatan Gendawa pada 140 juta tahun yang lalu menjadi paparan sunda (berasal dari benua utara laurasia) dan paparan Sahul (berasal dari Gondawa) menyebabkan penyebaran tumbuhan yang terpusat di paparan Sunda seperti jenis durian, rotan, tusam dan artocarpus.

Pola penyebaran hewan di Indonesia diwarnai oleh pola kelompok kawasan Oriental di sebelah barat dan kelompok kawasan Australia di sebelah Timur. Kedua kawasan ini sangat berbeda. Namun demikian karena Indonesia terdiri dari deretan pulau yang sangat berdekatan, maka migrasi fauna antarpulau memberi peluang bercampurnya unsur dari 2 kelompok kawasan tersebut. Percampuran ini mengaburkan batas antara kawasan oriental dan kawasan Australia.. Memperhatikan sifat hewan di Indonesia Wallace membagi kawasan penyebaran fauna menjadi 2 kelompok besar yaitu fauna bagian barat Indonesi (Sumatera, Jawa, Bali, Madura, Kalimantan) dan Fauna bagian timur yaitu Sulawesi dan pulau di sebelah timumya. Dua kelompok fauna ini mempunyai ciri yang berbeda dan dipiahkan ole garis Wallace (garis antara Kalimantan dan Sulawesi, berlanjut antara Bali dan Lombok).

Hamparan kepulauan di sebelah timur garis Wallace dari semula memang tidak termasuk kawasan Australia, karena garis batas barat kawasan Australia adalah Garis Lydekker yang mengikuti batas paparan Sahul. Dengan demikian ada daerah transisi yang dibatasi Garis Wallace di sebelah Barat dan garis Lydekker di sebelah timur. Di antara kedua garis ini terdapat garis keseimbangan fauna yang dinamakan garis Weber. Karena peluang pencampuran unsur fauna di daerah ini sangat besar, akibatnya di daerah transisi ini terdapat unsur - unsur campuran antara barat dan timur. Daerah transisi ini dinamakan Wallace. Dengan kondisi geografis seperti ini mengakibatkan sumber daya hayati di Indonesia sangat kaya baik dalam jenis maupun jumlahnya.

Keanekaragaman Jenis

Indonesia memiliki keaneka ragaman jenis yang kaya. Taksiran jumlah jenis kelompok utama makhluk hidup sebagai berikut: Hewan menyusui 300 jenis; Burung 7500 jenis; Reptil 2000 jenis; Amfibi 1000 jenis; Ikan 8500 jenis; keong 20000 jenis; serangga 250000 jenis. Tumbuhan biji 25000 jenis; paku pakuan 1250 jenis; lumut 7500 jenis; Ganggang 7800 jenisjamur 72 000 jenis; bakteri dan ganggang biru 300 jenis. (Sastra pradja, 1989). Beberapa pulau di Indonesia memiliki spesies endemik, terutama di pulau Sulawesi; Irian Jaya dan di pulau Mentawai. Indonesia memiliki 420 specis burung endemik yang tersebar di 24 lokasi.

Keanekaragaman Genetik

Keaneka ragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu jenis. Dengan demikian tidak ada satu makhlukpun yang sama persis dalam penampakannya. Matoa Pometia pinnata di Irian Jaya mempunyai 9 macam penampilan dari seluruh populasi yang ada. Dengan kemampuan reproduksi baik vegetatif dan generatif, populasi sagu di Ambon mempunyai 6 macam pokok sagu yang berbeda. Berdasarkan jumlah jenis durian liar yang tumbuh di Kalimantan yang jumlahnya mencapai 19 jenis, diduga bahwa Kalimantan adalah pusat keanekaragaman genetik durian. Dengan teknik budi daya semakin banyak jenis tumbuhan hasil rekayasa genetik seperti padi, jagung, ketela, semangka tanpa biji, jenis jenis anggrek, salak pondoh, dan lain-lain. Keanekaragaman plasma nutfah di Indonesia tampak pada berbagai hewan piaraan. Ternak penghasil pangan yang telah diusahakan adalah 5 jenis hewan temak yaitu sapi biasa, sapi Bali, kerbau, kambing, domba dan babi. Dan 7 jenis unggas yaitu ayam, itik , entok, angsa, puyuh, merpati dan kalkun serta hewan piaraan yang lain seperti cucak rowo, ayam bekisar, dan lain-lain. Keanekaragaman genetik hewan ini tidak semuanya berasal dari negeri sendiri. Namun demikian melalui proses persilangan jenis-jenis hewan ini memperbanyak khasanah keanekaragaman genetik di Indonesia.

Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Pangan di Indonesia

Kebutuhan karbohidrat masyarakat Indonesia terutama tergantung pada beras. Sumber lain seperti jagung, ubi jalar, singkong, talas dan sagu sebagai makanan pokok di beberapa daerah mulai ditinggalkan. Ketergantungan pada beras ini menimbulkan krisis pangan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Selain tanaman pangan yang telah dibudidaya, sebenarnya Indonesia mempunyai 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah rempah. Perikanan merupakan sumber protein murah di Indonesia. Kita mempunyai zona ekonomi eksklusif yaitu 200 mil dari garis pantai yang dapat dipergunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Budi daya udang , bandeng dan lele dumbo sangat potensial juga sebagai sumber pangan. Oncom , tempe, kecap, tape, laru (minuman khas daerah Timor), gatot, merupakan makanan suplemen yang disukai masyarakat Indonesia. Jasa mikro organisme seperti kapang, yeast dan bakteri sangat diperlukan untuk pembuatan makanan ini. Beberapa jenis tanaman seperti suji, secang, kunir, gula aren, merang padi, pandan banyak digunakan sebagai zat pewarna makanan.

Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Sandang dan Papan

Kapas, rami, yute, kenaf, abaca, dan acave serta ulat sutera potensial sebagai bahan sandang. Tanaman ini tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Jawa dan Kalimantan dan Sulawesi. Di samping itu beberapa Suku di Kalimantan, Irian dan Sumatera menggenakan kulit kayu, bulu- bulu burung serta tulang-tulang binatang sebagai asesoris pakaian mereka. Sementara masyarakat pengrajin batik menggunakan tidak kurang dari 20 jenis tanaman untuk perawatan batik tulis termasuk buah lerak yang berfungsi sebagai sabun. Masyarakat suku Dani di Lembah Baliem Irian Jaya menggunakan 6 macam tumbuhan sebagai bahan sandang. Untuk membuat yokal (pakaian wanita yang sudah menikah) menggunakan jenis tumbuhan (Agrostophyllum majus) dan wen (Ficus drupacea). Untuk pakaian anak gadis dipergunakan jenis tumbuhan kem (Eleocharis dulcis). Untuk membuat koteka/holim yaitu jenis pakaian pria digunakan jenis tanaman sika (Legenaria siceraria). Sedangkan pakaian perang terbuat dari mul (Calamus sp).

Rumah adat di Indonesia hampir semuanya memerlukan kayu sebagai bahan utama. Semula kayu jati, kayu nangka dan pokok kelapa (glugu) dipergunakan sebagai bahan bangunan. Dengan makin mahalnya harga kayu jati saat ini berbagai jenis kayu seperti meranti, keruing, ramin dan kayu kalimantan dipakai juga sebagai bahan bangunan.Penduduk Pulau Timor dan Pulau Alor menggunakan lontar (Borassus sundaicus) dan gewang (Corypha gebanga) sebagai atap dan didinding rumah. Beberapa jenis palem seperi Nypa fruticas, Oncosperma horridum, Oncossperma tigillarium dimanfaatkan oleh penduduk Sumatera, Kalimantan dan Jawa untuk bahan bangunan rumah.Masyarakat Dawan di Pulau Timor memilih jenis pohon timun (Timunius sp), matani (Pterocarpus indicus), sublele (Eugenia sp) sebagai bahan bangunan disamping pelepah lontar, gewang dan alang-alang (Imperata cyllndrica) untuk atap.

Sumber daya Hayati sebagai Sumber Obat dan Kosmetik

Indonesia memiliki 940 jenis tanaman obat, tetapi hanya 120 jenis yang masuk dalam Materia medika Indonesia. Masyarakat pulau Lombok mengenal 19 jenis tumbuhan sebagai obat kontrasepsi. Jenis tersebut antara lain pule, sentul, laos, turi, temulawak. Alang-alang, pepaya, sukun, lagundi, nanas, jahe, jarak, merica, kopi, pisang, lantar, cemara, bangkel, dan duwet. Bahan ini dapat diramu menjadi 30 macam. Masyarakat jawa juga mengenal paling sedikit 77 jenis tanaman obat yang dapat diramu untuk pengobatan segala penyakit Masyarakat Sumbawa mengenal 7 jenis tanaman untuk ramuan minyak urat yaitu akar salban, akar sawak, akar kesumang, batang malang, kayu sengketan," ayu sekeal, kayu tulang. Masyarakat Rejang Lebong Bengkulu mengenal 71 jenis tanaman obat. Untuk obat penyakit malaria misalnya masyarakat daerah ini menggunakan 10 jenis tumbuhan. Dua di antaranya yaitu Brucea javanica dan Peronemacanescens merupakan tanaman langka. Cara pengambilan tumbuhan ini dengan mencabut seluruh bagian tumbuhan, mengancam kepunahan tanaman ini. Masyarakat Jawa Barat mengenal 47 jenis tanaman untuk menjaga kesehatan ternak terutama kambing dan domba. Di antara tanaman tersebut adalah bayam, jambe, temu lawak, dadap, kelor, lempuyang, katuk, dan lain-lain. Masyarakat Alor dan Pantar mempunyai 45 jenis ramuan obat untuk kesehatan ternak sebagai contoh kulit kayu nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat diare pada kambing. Di Jawa Timur dan Madura dikenal 57 macam jamu tradisional untuk ternak yang menggunakan 44 jenis tumbuhan. Jenis tumbuhan yang banyak digunakan adalah marga curcuma (temuan-temuan). Di daerah Bone Sulawesi Utara ada 99 jenis tumbuhan dari 41 suku yang diprgunakan sebagai tanaman obat. Suku Asteraceae, Verbenaceae, Malvaceae, Euphorbiaceae, dan Anacardiaceae merupakan suku yang paling banyak digunakan.

Potensi keanekaragaman hayati sebagai kosmetik tradisional telah lama dikenal. Penggunaan bunga bungaan sepeti melati, mawar, cendana, kenanga, kemuning, dan lain-lain lazim dipergunakan oleh masyarakat terutama Jawa untuk wewangian. Kemuning yang mengandung zat samak dipergumakan oleh masyarakat Yogyakarta untuk membuat lulur (9 jenis tumbuhan) yang berhasiat menghaluskan kulit. Tanaman pacar digunakan untuk pemerah kuku, sedangkan ramuan daun mangkokan, pandan, melati dan minyak kelapa dipakai untuk pelemas rambut. Di samping itu masyarakat Jawa juga mengenal ratus yang diramu dari 19 jenis tanaman sebagai pewangi pakaian, pemangi ruangan dan sebagai pelindung pakaian dari serangan mikro organisme. Di samping semuanya ini Indonesia mengenal 62 jenis tanaman sebagai bahan pewarna alami untuk semua keperluan, seperti misalnya jambu hutan putih yang digunakan sebagai pewama jala dan kayu malam sebagai cat batik.

Aspek Kultural Sumberdaya Hayati di Indonesia

Indonesia memiliki kurang lebih 350 etnis dengan keanekaragaman agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya. Dalam upacara ritual keagamaan atau dalam upacara adat banyak sekali sumber daya hayati yang dipergunakan. Sebagai contoh, ummat Islam menggunakan sapi dan kambing jantan dewasa pada setiap hari raya korban, sedangkan umat nasrani memerlukan pohon cemara setiap natal. Umat Hindu membutuhkan berbagai jenis sumber daya hayati untuk setiap upacara keagamaan yang dilakukan. Banyak jenis pohon di Indonesia yang dipercaya sebagai pengusir roh jahat atau tempat tinggal roh jahat seperti beringin, bambu kuning (di Jawa). Upacara kematian di Toraja menggunakan berbagai jenis tumbuhan yang dianggap mempunya nilai magis untuk ramuan memandikan mayat misalnya limau, daun kelapa, pisang dan rempah-rempah lainnya. Disamping itu dipergunakan pula kerbau belang . Pada upacara ngaben di Bali dipergunakan 39 jenis tumbuhan. Dari 39 jenis tersebut banyak yang tergolong penghasil minyak atsiri dan bau harum seperti kenanga, melati, cempaka, pandan, sirih dan cendana. Jenis lain yaitu dadap dan tebu hitam diperlukan untuk, kelapa gading diperlukan untuk menghanyutkan abu ke sungai.

Pada masyarakat Minangkabau dikenal juga upacara adat. Jenis tanaman yang banyak dipergunakan dalam upacara adat ini adalah padi, kelapa, jeruk, kapur barus, pinang dan tebu. Budaya nyekar di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan upacara mengirim doa pada leluhur. Upacara ini juga menggunakan berbagai jenis tumbuhan bunga yaitu mawar, kenanga, kantil, dan selasih. Untuk pembuatan kembar mayang pada pesta perkawinan suku Jawa dipergunakan jenis tumbuhan yaitu janur muda dari kelapa, mayang (bunga pinang), beringin, kemuning, daun spa-spa (Flemingialineata), daun kara (phaseolus lunatus), daun maja, daun, alang slang, daun kluwih (Artocarpus cornmunis), daun salam, daun dadap, daun girang, dan daun andhong. Disamping itu dikenal juga pemotongan ayam jantan untuk ingkung yang biasanya ayam berbulu putih mulus atau ayam berbulu hitam mulus (ayam cemani). Aneka tanaman yang dipergunakan untuk upacara memandikan keris di Yogyakarta adalah jeruk nipis, pace, nanas, kelapa, cendana, mawar, melati, kenanga, dan kemenyan Selain melekat pada upacara adat, kekayaan sumber daya hayati Indonesia tampak pada hasil-hasil kerajinan daerah dan kawasan. Misalnya kerajinan mutiara, dan kerang-kerangan di Nusa Tenggara dan Ambon, kerajinan kenari di Bogor, daerah. Pada hari lingkungan hidup sedunia ke-18, Presiden RI menetapkan melati sebagai puspa bangsa, anggrek bulan sebagai puspa pesona dan bunga raflesia sebagai puspa langka. Tiga satwa langka yang ditetapkan sebagai satwa nasional adalah Komodo, ikan siluk merah dan elang jawa. Kerajinan batik dan tenun ikat, kerajinan tikar, patung, dan lain-lain. Kekayaan sunber daya hayati juga nampak pada penggunaan maskot flora dan fauna di senua propinsi di Indonesia sebagai identitas.

Konservasi Keanekaragaman Hayati

Pemanfaatan sumber daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang ditandai dengan makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena kehilangan habitatnya, kerusakan ekosisitem dan menipisnya plasma nutfah. Hal ini harus dicegah agar kekayaan hayati di Indonesia masih dapat menopang kehidupan. Konservasi sumber daya hayati di Indonesia diatur oleh UU No 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Azas yang digunakan dalam pengelolaan linggungan hidup adalah azas tanggung jawab, berkelanjutan dan manfaat. Upaya konservasi keaneka ragaman ekosisitem di Indonesia silakukan secara insitu yang menekankan terjaminnya terpeliharanya keaneka ragaman hayati secara alami melalui proses evolusi. Saat ini kawasan konservasi yang ada di Indonesia terkelompok menjadi 180 cagar alam, 72 suaka margasatwa, 70 taman wisata, 13 taman buru, 17 taman nasional dan 3 taman hutan raya serta 13 taman laut. Dalam rangka kerja sama konservasi internasional, 6 dari kawasan suaka alam dijadikan cagar biosfer. Cagar biosfer ini suatu kawasan yang terdiri dari ekosisitem asli, unik dan atau ekosisitem yang telah mengalami degradasi yang dilindungi dan dilestarikan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan. Taman nasional di Indonesia mulai dikembangkan tahun 1980. Lima taman nasional pertama yaitu taman nasional gunung Leuser, taman nasional ujung Kulon, Taman nasional Gede Pangrango, taman nasional Baluran dan Taman nasional Komodo diperuntukkan untuk melindungi dan mengawetkan warisan alami bangsa Indonesia.

Pelestarian keanekaragaman jenis di Indonesia dilakukan baik secara insitu maupun eksitu. Pelestarian eksitu berarti memindahkan jenis dari habitatnya untuk dilestarikan dan diamankan. Pendirian kebun raya Bogor, kebun binatang, penangkaran hewan langka seperti badak, jalak bali, rusa timor, kayu hitam sawo kecik dan lain-lain merupakan upaya pelestarian exsitu yang tidak perlu mengganggu populasi alaminya.

Pelestarian plasma nutfah di Indonesia dilakukan baik secara insitu maupun eksitu. Pemuliaan tanaman saat ini ditujukan pada tanaman budi daya seperti padi, anggrek serta kultivar lainnya. Untuk hewan upaya penangkaran dan persilangan dilakukan pada berbagai jenis satwa piaraan seperti sapi, kambing, kuda dan ayam. Kebun koleksi plasma nutfah yang ada di Indonesia sampai daat ini belum menghasilkan banyak kultivar unggul baru. Kebun koleksi buah di Paseh dan Cibinong, kebun koleksi mangga di Grati, koleksi kopi di Ijen dan koleksi kelapa di Bone-Bone belum menampakkan hasil yang diharapkan sebagai sumber plasma nutfah. Sebenarnya secatra tradisional masyarakat Indonesia telah memiliki pola pelestarian alam yang ekologis, misalnya tidak boleh menebang pohon beringin, tidak boleh mengambil ikan di lubuk, dan lain-lain, namun karena kemajuan teknologi warisan tradisional tersebut memudar.

Pengelolaan Sumberdaya Alam

Pengelolaan sumber daya alam merupakan agenda keempat dalam Agenda 21 Indonesia. Tiga subagenda dirumuskan dalam agenda ini, yakni: (1) konservasi keanekaragaman hayati, (2) pengembangan biteknologi, dan (3) pengelolaan terpadu wilayah pesisir dan lautan. Sebagaimana dirumuskan dalam dokumen Agenda 21 Indonesia, penanganan bagi ketiga aspek di atas diarahkan pada upaya-upaya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman biologi pada tingkat genetik, spesies dan ekosistem, serta menjamin kekayaan alam, binatang dan tumbuhan di seluruh kepulauan Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati ini sangat diperlukan tidak saja untuk kepentingan bangsa Indonesia, melainkan juga untuk kepentingan masyarakat dunia secara keseluruhan. Upaya-upaya pengelolaan sumber daya alam dengan demikian, haruslah diarahkan tidak saja untuk kepentingan jangka pendek nasional untuk meningkatkan devisa negara, tetapi juga kepentingan jangka panjang dalam skala yang lebih luas. Dalam konteks ini, sebagaimana upaya pengelolaan sumber daya tanah, aspek penataan ruang menjadi penting untuk memfasilitasi proses-proses pemanfaatan dan pelestarian fungsi-fungi lingkungan. Selanjutnya, pengembangan sistem pendataan dan informasi sumber daya alam menjadi syarat mutlak bagi upaya pengelolaan sumberdaya alam.

Pengelolaan Sumber daya Tanah

Pengelolaan sumber daya tanah dipandang penting dan didasari oleh pertimbangan bahwa proses-proses pembangunan yang akan terjadi di Indonesia masih akan ditumpukan pada potensi sumber daya tanah. Oleh karenanya, sumber daya tanah dengan segala komponen yang ada di dalamnya termasuk air, biota, dan lainnya harus dikelola secara baik. Empat subagenda dirumuskan dalam hal ini yakni: (1) penatagunaan sumberdaya tanah, (2) pengelolaan hutan, (3) pengembangan pertanian dan pedesaan, dan (4) pengelolaan sumberdaya air.

Empat hal penting perlu dicatat dalam hal ini. Pertama adalah pemikiran bahwa oleh karena krisis ekonomi yang berkepanjangan serta runtuhnya unit-unit industri yang mengadalkan bahan baku impor, proses-proses eksploitasi sumber daya tanah di Indonesia akan semakin meningkat. Sumber daya hutan yang sebenarnya sudah menipis, akan cenderung digenjot untuk terus memberikan devisa negara oleh karena menurunnya penerimaan devisa dari sektor-sektor lain. Keadaan ini perlu mendapat perhatian yang serius bagi mereka yang akan terlibat langsung dalam usaha-usaha pengelolaan lingkungan.

Catatan kedua yang penting adalah bahwa berbagai upaya pengelolaan sumberdaya tanah harus dilakukan secara terpadu. Ini berarti bahwa pengelolaan empat aspek di atas (sumber daya tanah, hutan, pertanian, dan sumber daya air) tidaklah boleh dilakukan secara parsial oleh karena keterkaitan yang erat di antaranya. Para pengelola lingkungan di Indonesia harus berupaya keras agar upaya-upaya terpadu ini dapat ditingkatkan dengan empat aspek di atas.

Catatan ketiga dalam pengelolaan sumberdaya tanah menyangkut fakta bahwa setiap daerah di Indonesia mempunyai tingkat persoalan yang berbeda, sehingga opsi-opsi pengelolaannya juga mungkin berbeda. Konsekuensinya adalah bahwa setiap pemerintah daerah harus secara inovatip merumuskan bentuk-bentuk opsi pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan kondisi dan persoalan di daerahnya masing-masing. Bahwa UUPL 23 telah mendasari diberikannya kewenangan pengelolaan lingkungan kepada daerah merupakan peluang bagi pemerintah dan masyarakat di daerah untuk mengembangkan model-model pengelolaan lingkungan yang dianggap paling efektip.

Terakhir, perlu dicatat bahwa berbagai upaya pengelolaan sumberdaya tanah akan berkaitan dengan proses-proses penataan dan perijinan ruang sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang tentang penataan ruang No. 24 tahun 1992. Hal ini penting diperhatikan oleh karena upaya-upaya terpadu pengelolaan lingkungan hanya mungkin dilakukan apabila difasilitasi dengan rencana-rencana ruang yang jelas. Lebih lanjut, berkaitan dengan pentingnya rencana ruang ini adalah keharusan akan tersedianya sistem informasi dan data dasar yang lengkap akan sumberdaya tanah di Indonesia. Pengelolaan lingkungan di Indonesia akan dapat dilakukan lebih efektip apabila terdapat sistem informasi dasar yang baik dan sestematis.

Pengelolaan Limbah

Pengelolaan Limbah

Pengelolaan limbah merupakan agenda kedua dalam Agenda 21 Indonesia. Agenda ini dirumuskan terutama dengan sasaran untuk memperbaiki kondisi dan kualitas hidup manusia serta mencegah proses degradasi lingkungan hidup secara keseluruhan. Lima aspek menjadi sasaran utama pengelolaan limbah yakni: (1) perlindungan atmosfir, (2) pengelolaan bahan kimia beracun, (3) pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, (4) pengelolaan limbah radioaktip, serta (5) pengelolaan limbah padat dan cair.

Penting dicatat di sini bahwa persoalan pengelolaan limbah di Indonesia menyangkut masih kurangnya kapabilitas kelembagaan yang menangani pengelolaan limbah serta kurang memadainya instrumen peraturan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan limbah. Dua hal ini tentunya harus mendapatkan prioritas utama, mengingat semakin meningkatnya persoalan-persoalan yang berkaitan dengan limbah. Sementara program-program nyata seperti Prokasih dan Langit Biru, perlu terus dilakukan, upaya lain yang perlu dilakukan harus lebih bersifat preventip, antara lain melalui proses-proses edukasi masyarakat agar semakin sadar tentang pentingnya pengelolaan limbah secara baik dan benar.

AGENDA 21 INDONESIA

AGENDA 21 INDONESIA

Agenda 21 Indonesia terdiri atas 4 (empat) bagian, yaitu: Bagian I: Pelayanan masyarakat, dan ini dibagi ke dalam 6 (enam) Bab, yaitu Bab 1 tentang Pengentasan Kemiskinan; Bab 2 tentang Perubahan Pola Konsumsi; Bab 3 tentang Dinamika Kependudukan; Bab 4 tentang Pengelolaan dan Peningkatan Kesehatan; Bab 5 tentang Pengembangan Perumahan dan Pemukimam; dan Bab 6 tentang Sistem Perdagangan Global, Instrumen Ekonomi, serta Neraca Ekonomi dan Lingkungan Terpadu.

Bagian II: Pengelolaan Limbah, yang dibagi ke dalam 5 (lima) Bab, yaitu Bab (7) Perlindungan Atmosfir; Bab (8) Pengelolaan Bahan Kimia Beracun; Bab (9) Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun; Bab (10) Pengelolaan Limbah Radioaktif ; dan Bab (11) Pengelolaan Limbah Padat dan Cair.

Bagian III : Pengelolaan Sumber daya Tanah, yang dibagi ke dalam 4 (empat) Bab, yaitu Bab (12) Perencanaan Sumberdaya Tanah; Bab (13) Pengelolaan Hutan; dan Bab (14) Pengembangan Pertanian dan Pedesaan; dan Bab (15) Pengelolaan Sumberdaya air.

Bagian IV: Pengelolaan Sumber daya Alam, dibagi ke dalam 3 (tiga) Bab, yaitu Bab (16) Konservasi Keanekaragaman Hayati; Bab (17) Pengembangan Teknologi; dan Bab (18) Pengelolaan Terpadu Wilayah Pesisir dan Lautan.

Pelayanan Masyarakat

Agenda Pelayanan masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan prinsip-prinsip sosial ekonomi pembangunan berkelanjutan. Agenda ini mendapat penekanan utama dalam Konperensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, terutama didasarkan atas fakta masih banyaknya penduduk dunia yang hidup dalam tingkat kesejahteraan yang minim. Di Indonesia, agenda pelayanan masyarakat yang ditetapkan sebagai agenda pertama dan ini menyiratkan bahwa fokus pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia memang diarahkan pada dimensi sosial-ekonomi, tanpa mengabaikan dimensi lain. Enam subagenda dirumuskan dalam agenda pelayanan masyarakat ini.

Sub-agenda pertama menyangkut "pengentasan kemiskinan" yang memang merupakan persoalan yang belum kunjung selesai di Indonesia. Penting dicatat di sini bahwa pendidikan, yang merupakan bagian dari proses pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan, sangat ditekankan dalam dokumen Agenda 21 Indonesia. Berbagai upaya pengelolaan lingkungan akan kurang efektip dilakukan apabila sebagian besar masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan, sementara upaya-upaya pelibatan masyarakat dalam berbagai opsi pengelolaan lingkungan juga tidak akan efektip tanpa meningkatkan pendidikan dasar masyarakat.

Sub-agenda kedua dalam pelayanan masyarakat menyangkut perubahan pola produksi dan konsumsi. Aspek ini dipandang perlu mendapat perhatian para pengelola lingkungan di Indonesia, karena akan menjadi dasar pijak bagi berbagai proyeksi persoalan lingkungan di Indonesia. Sebagaimana data-data empirik telah menunjukkan pola perubahan konsumsi masyarakat Indonesia mengindikasikan bahwa proses-proses produksi dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia akan semakin meningkat. Dengan proyeksi penduduk sekitar 206 juta jiwa pada tahun 2000, kebutuhan akan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan lain di Indonesia akan mengalami peningkatan yang pesat. Upaya-upaya pengelolaan lingkungan harus menyadari bahwa setiap perubahan pola konsumsi akan membawa implikasi yang luas bagi lingkungan.

Dinamika kependudukan merupakan subagenda ketiga dalam bidang pelayanan masyarakat. Subagenda ini menjelaskan bahwa di samping jumlah absolutnya yang tetap tinggi, persoalan kependudukan di Indonesia meliputi pula persebaran serta kualitas penduduk dipandang dari sudut sumberdaya manusia secara keseluruhan. Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia harus melihat bahwa pola persebaran yang tidak merata ini membawa baik dampak positip maupun negatip terhadap lingkungan. Selanjutnya, upaya-upaya pengelolaan lingkungan di Indonesia juga harus memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena tanpa hal ini, berbagai opsi pengelolaan lingkungan akan menjadi tidak efektip.

Berkaitan dengan dinamika kependudukan, pengelolaan dan peningkatan kesehatan merupakan subagenda keempat dalam agenda pelayanan masyarakat. Subagenda ini menekankan pentingnya upaya-upaya seperti pembangunan kesehatan dasar khususnya bagi kelompok rentan, pengendalian penyakit menular, serta pembangunan kesehatan perkotaan dan pengendalian pencemaran lingkungan.

Subagenda kelima dalam pelayanan masyarakat menyangkut pengembangan perumahan dan pemukiman. Fokus agenda ini menyangkut baik persoalan kuantitatip, yakni jumlah kebutuhan rumah, maupun persoalan kualitatip dalam arti kondisi lingkungan perumahan. Pengelolaan lingkungan hidup harus melihat persoalan ini secara seksama oleh karena implikasi langsungnya terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

Terakhir, sistem perdagangan global, instrumen ekonomi, serta neraca ekonomi dan lingkungan terpadu merupakan subagenda keenam dalam pelayanan masyarakat. Aspek ini dipandang perlu dalam strategi pembangunan berkelanjutan di Indonesia, oleh karena proses gobalisasi yang terjadi tidak saja mempercepat proses-proses perubahan dan perusakan lingkungan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Pengelolaan lingkungan di Indonesia harus secara jeli melihat peluang-peluang yang diberikan dalam proses globalisasi untuk kepentingan lingkungan.

Pengertian

Pengertian

Pengelolaan Lingkungan seperti yang disebut dalam pasal 1 UUPL 23 Tahun 1997, adalah sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Pengertian ini menggambarkan bahwa pengelolaan lingkungan hidup yang diharapkan Indonesia mempunyai cakupan yang luas yang akan meliputi berbagai upaya yang sifatnya persuasif, preventif, kuratif, dan kalau perlu represif. Namun juga diberikan peluang bagi berbagai inisiatif masyarakat untuk ikut bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan.

Pengelolaan Lingkungan di Indonesia menetapkan muara yang menjadi ukuran keberhasilan pengelolaan lingkungan ini pada perwujudan pembangunan yang berkelanjutan, yang diartikan sebagai upaya sadar dan terencana, memadukan lingkungan hidup termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Keadilan diletakkan sebagai jiwa pokok dan proses pembangunan berkelanjutan baik dalam dimensi waktu dan ruang.

TEMA-TEMA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Pengelolaan Lingkungan Hidup Manusia

Pengelolaan Lingkungan di Indonesia pada umumnya mengandung dua aspek yaitu pengelolaan formal dan pengelolaan informal. Secara formal tanggung jawab Pemerintah menjadi dominan dan sebagian besar bertumpu pada landasan hukum dan peraturan yang disiapkan untuk mengatur Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia. Saat ini landasan Hukum yang digunakan sebagai dasar adalah Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang di dalamnya dirumuskan pengertian, tujuan dan azas, sasaran, mekanisme dan kewenangan pengelolaan lingkungan. Dalam UU tersebut juga diatur penyelesaian konflik lingkungan yang mungkin terjadi. Selain UU No. 23 Tahun 1997 ini terdapat berbagai Peraturan Pemerintah Pusat (Departemen) atau Daerah, serta UU lain yang mendukung upaya Pengelolaan Lingkungan di Indonesia. Pengelolaan informal dilakukan oleh penduduk baik secara terorganisasi melalui berbagai kegiatan LSM maupun yang terjadi karena landasan budaya dan pengetahuan asli/adat (indegenous knowledge).

Selain pengelolaan formal dan informal tersebut, terdapat dukungan kelembagaan yang terkait dengan berbagai aspek kegiatan pengelolaan lingkungan di Indonesia. Kalau mengingat bahwa Indonesia baru mulai peduli (secara resmi) kepada persoalan lingkungan sejak tahun 1982 (sepuluh tahun sesudah Konferensi Lingkungan di Stockholm, 1972), maka sesungguhnya secara kelembagaan kemajuannya sudah cukup pesat. Perangkat-perangkat kelembagaan yang dibentuk di Indonesia mulai dengan hadirnya Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) sejak tahun 1982, dengan Menterinya Prof. Dr. Emil Salim, yang kemudian diganti menjadi Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dan akhirnya menjadi Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, sampai sekarang. Perangkat organisasi lainnya yang mendukung fungsi Kantor Menteri Negara Lingkungan yang paling dekat adalah Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedal), yang dalam waktu singkat akan dikembangkan struktur organisasinya ke bawah (infra struktur) sebagai Bapedalwil (sementara 3 daerah) dan Bapedalda tingkat I di semua propinsi dan Bapedalda Tingkat II di tiap Kabupaten/Kotamadya. Perguruan Tinggi dengan Pusat-Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) atau Pusat Studi Lingkungan (PSL) mengembangkan bentuk kerjasama (kolaborasi) vertikal dan horizontal dengan lembaga-lembaga tersebut.

Jerman Kembangkan Vaksin dari Tumbuhan

Indonesia bekerjasama dengan Jerman kembangkan sejumlah vaksin dari bahan-bahan tumbuhan. Pembuatan vaksin dengan teknologi Molecular Farming itu lebih produktif dan murah dibandingkan dengan pembuatan vaksin dari bahan mikroba atau hewan. Namun, yang terpenting, proses pembuatannya jauh lebih aman bagi lingkungan.

"Teknologi ini akan mempengaruhi harga jual vaksin yang tentunya akan lebih murah hingga 50 persen, tetapi kualitas produk yang sama baiknya," kata Ketua LIPI Prof Dr Umar Anggara Jenie dalam penjelasannya kepada wartawan usai penandatangan naskah kerjasama antara Fraunhoper Gesselschaft Jerman dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan PT Kalbe Farma, di Jakarta, Selasa (8/3).

Ditambahkan, pengembangan Molecular Farming itu untuk membuat empat jenis protein pharmaceutical. Pertama, vaksin Inferon Alpha 2 untuk vaksin anti HIV, Hepatitis C dan kanker. Kedua, Vaksin Inhibitor Helicase untuk vaksin yang disebabkan oleh flavirus, Hepatitis C dan demam berdarah dengue.

Vaksin ketiga adalah jenis Human Serum Albumine yang dipergunakan sebagai anti liver sirosis, luka akibat terbakar dan pembedahan. Keempat, vaksin Antibody M-12 untuk anti tumor. "Teknologi ini merupakan hasil perpaduan antara kedokteran molekular dan bioteknologi yang mengembangkan vaksin yang dihasilkan dari tanaman," ujarnya. Menurut Prof Umar Djeni, pengembangan Molecular Farming belum banyak dikembangkan. Hanya beberapa negara seperti Jerman dan Kanada yang serius mengembangkan. "Dengan MoU ini berarti Indonesia termasuk negara Asia pertama yang mengembangkan vaksin dari tanaman," ucapnya.

Ia juga berpendapat bahwa potensi penggunaan tumbuhan transgenik sebagai sistem produksi untuk rekombinan farmasi telah dimulai sejak tahun 1986 hingga 1990. Hasilnya berupa peleburan hormon protein pertumbuhan manusia, interferon dan serum zat putih telur manusia.

"Keuntungan lain dengan teknologi Molecular Farming selain menghasilkan produksi protein dalam skala besar, tumbuhannya tidak terserang penyakit yang disebabkan virus hewan dan manusia," katanya.

Di dalam penelitian tersebut, LIPI di samping mengerahkan para pakar bioteknologi dari Puslit Bioteknologi sendiri, tapi juga akan dibantu oleh pakar serupa dari Fraunhoper Gesselschaft Jerman. Sedangkan bahan-bahan penelitian yang akan digunakan dapat diambil dari sejumlah kebun raya.

"Kita banyak mempunyai kebun raya, antara lain kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Bedugul-Bali, yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan untuk penelitian tersebut. Apalagi, setiap kebun raya yang ada memiliki kekhasan tanaman dengan sejumlah tanaman berkhasiat obat yang belum dimanfaatkan," ujar Prof Umar Anggoro Jenie.

Penelitian yang dilakukan tersebut merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi kedokteran. Dari satu penelitian ini akan lebih banyak lagi yang bisa diteliti. Selain itu, LIPI mengembangkan penelitian dalam lingkup biologi pertanian, yang difokuskan pada pertanian, peternakan dan perkebunan.

Pengembangan kerjasama antara LIPI dan Departemen Pendidikan Tinggi Jerman ini akan berlangsung selama 3 tahun. Umar mengharapkan, pada tahun 2007 pengembangan teknologi Molecular Farming bisa sukses dalam skala laboratoris. Selanjutnya pengembangan memfokuskan pada produksi skala industri yang akan dikembangkan PT Kalbe Farma.

Dia menambahkan bahwa sejak tahun 2003 LIPI telah memulai penelitian Molecular Farming. Penelitiannya memfokuskan pada produksi protein untuk pengobatan atau human erythropoietin (hEPO) untuk penyakit anemia dan protein untuk diagnosa (sialidase) penyeakit kanker. Penelitian Molecular Farming-nya menggunakan tanaman tembakau.

Selain itu PT Kalbe Farma Tbk dan Fraunhofer Gesellschaft juga kerjasama dalam memproduksi diagnostik chip yang murah untuk mendeteksi penyakit Hepatitis C.

Presiden Direktur PT Kimia Farma Gunawan Pranoto mengatakan, kini di Indonesia terdapat 7,7 penderita Hepatitis C atau 3,5 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara total penderita Hepatitis C di dunia mencapai 200 juta atau 3 persen dari total penduduk dunia. Namun masalahnya saat ini harga diagnostik HCV (kualitatif, kuantitatif dan genotif) di Indonesia harganya sekitar Rp 4 juta rupiah. (T-1)

Pemeliharaan dan Perawatan Arsip

Pemeliharaan dan Perawatan Arsip

Fungsi yang penting tetapi sering diabaikan dalam penataan arsip untuk menjamin kelestarian informasi yang dikandung di dalam arsip adalah pemeliharaan dan perawatan fisik.

1. Kerusakan arsip

Sebelum membahas masalah pemeliharaan dan perawatan arsip perlu dikemukakan sebab-sebab kerusakan arsip. Pada dasarnya kerusakan arsip disebabkan oleh 3 faktor, yakni biologis, fisik, dan kimiawi. Disamping itu terdapat faktor-faktor lain seperti banjir, kebakaran dan kerusakan lainnya akibat perbuatan manusia itu sendiri, baik yang disengaja maupun tidak.

Kerusakan yang disebabkan oleh faktor biologi banyak menimpa di daerah tropis. Yang termasuk kategori biologis antara lain jamur dan serangga. Berberapa contoh kerusakan arsip dapat dilihat pada gambar-gambar berikut:

Masalah jamur ini perlu mendapat perhatian yang besar. Bakteri penyebab tumbuhnya jamur ini begitu kecilnya, sehingga sangatlah sulit untuk dapat dilihat dengan mata biasa. Jamur ini dapat membusukkan selulos dan kertas. Biasanya kertas berubah menjadi kuning, coklat datu bintik-bintik hitam. Disamping membusukkan selulos, jamur juga merusakkan perekat serta melengketkan antara satu kertas dengan kertas lainnya. Jamur tumbuh terutama disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti kelembaban, temperatur dan cahaya. Faktor kelembaban dan temperaturlah seberulnya yang paling berpengaruh. Faktor lain yang memungkinkan untuk tumbuhnya jamur adalah ruang penyimpanan yang terlalu gelap dan kelembaban di atas 0% RH (relative humidity).

Disamping itu, jamur juga menyebabkan timbulnya "foxing" yaitu bintik-bintik coklat pada kertas. Ini banyak terjadi pada kertas-kertas tua. Bintik-bintik tersebut sebagai akibat dari reaksi kimia antara campuran besi yang terkandung di dlaam kertas dan asam organik yang dikeluarkan oleh jamur.

Serangga berbahaya bagi arsip dan merupakan masalah yangpelik di negara tropis. Serangga sering diketemukan di pelbagai tempat di dalam gedung yang gelap. Mereka biasanyam membuat sarang di antara lembar-lembar arsip, rak, almari, laci dan sebagainya. Lem atau perekat dari tepung kanji merupakan makan yang mereka gemari. Sehingga tidak mengherankan jika jilidan buku/arsip mendapat prioritas utama untuk dimakan/dirusak. Selain itu mereka juga merusak kertas, foto, label dan sebagainya.

Beberapa jenis serangga yang menyerang kertas antara lain rayap, ngengat (silferfish), kutu buku (bookworm), dan psocids (semacam kutu buku).

Kerusakan fisik disebabkan oleh faktor cahaya, panas dan air. Ketiganya merupakan penyebab perubahan photochemical, hydrolytic atau oxidatic di dalam kertas.

Penyebab utama dari kehancuran kertas oleh faktor cahaya adalah sinar ultraviolet. Ultraviolet dapat merusakkan selulos kertas dan bahan-bahanlain arsip, tekstil, lukisan, dan sebagainya.

Disamping akibat ultraviolet, juga akibat dari "radiant energy" (kekuatan radian). Kekuatan radian adalah kekuatan dari gerak gelombang sinar yang mengenai suatu objek. Beberapa atau sebagian dari kekuatan radian ini diserap oleh objek yang bersangkutan. Bila mengenai kertas, molekul-molekul pada kertas akan mengembang atau mengurai dan akan mengalami reaksi kimia. Banyak kertas luntur warnanya dan menjadi lemah atau getas jika terkena sinar. Semua sinar, baik sinar matahari maupun yang buatan mengandung unsur sinar ultraviolet.


Kondisi fisik kertas akan terpengaruh oleh derajat panas dan kadar kelembaban di dalam ruang penyimpanan. Derajad panas yang tinggi akan menyebabkan kertas menjadi kering, getas dan mudah rapuh. Sedangkan uap air menyebabkan kertas-kertas menjadi lembab atau basah dan mendorong untuk tumbuhnya jamur.

Zat-zat kimia yang terdapat dlaam udara ruang penyimpanan dan arsip sendiri menyebabkan kerusakan kertas misalnya gas asidik, pencemaran atmosfir, dbu dan tinta. Gas asidik dan pencemaran udaralah yang sangat cepat merusak arsip.

Gas asidik secara perlahan-lahan akan menyerang selulos, dengan akibat kertas menjadi luntur dan getas. Kerusakan akan menjadi lebih hebat lagi jika panas dan uap air yang terkandung di dalam atmosfir melampaui batas yang sebenarnya.

Pencemaran atmosfir adalah salah satu sebab utama merosotnya derajat kimia yang terkandung di dalam kertas. Pencemaran karena adanya nitorogen, sulfur acid penyebab kerusakan terbesar dari pada kertas. Berkas-berkas zat besi dan tembaga yang ada pada kertas atau kulit merupakan katalistor yang sempurna dalam mengubah sulfur dioksid menjadi asam belerang. Asam belerang inilah yang mempunyai daya perusak yang sangat besar terhadap kertas. Pencemaran udara ini banyak terjadi di daerah-daerah industri.

Faktor kerusakan kertas uamg lain inilah yang disebabkan oleh asama. Adanya asam ini biasanya sejak kertas itu sendiri dibuat. Dengan kata lain bahwa kerusakan kertas disebabkan karena kertas itu sendiri. Kertas yang baik adalah kertas yang bebas asam atau yang ber HP 7. Ukuran HP ini adalah dari satu sampai dengan 14. Kurang dari 7 berarti mengandung asam dan lebih dari 7 berarti alkalin. Alat-alat yang sering dipergunakan untuk mengukur HP ini adalah PH meter. Arsip-arsip sebelum abad ke-19 biasanya menggunakan kertas dengan rata-rata PH 6,9 sedang setelah abad ke-19 dengan rata-rata PH 5,4. Semakin rendah PH nya berarti semakin banyak asamnya dan dengan sendirinya kertas tersebut akan lebih cepat rusak.

Instalasi Laboratorium mempunyai tugas melaksanakan pengujian laboratorium dalam rangka preservasi arsip konvensional dan media baru. Instalasi Laboratorium menyelenggarakan fungsi:

Melakukan pengujian kualifikasi mutu sarana dan prasarana arsip

Melakukan pengujian arsip yang perlu direstorasi atau direproduksi

Melakukan pengujian bahan untuk pemeliharaan, restorasi, dan reproduksi arsip

Melakukan pengujian hasil restorasi dan reproduksi arsip

Wednesday, September 28, 2005

Biodata

Tuesday, August 23, 2005

MISI

Misi
Untuk mewujudkan visi FIP UNY, segenap civitas akademika bertekad untuk melaksanakan misi sebagai berikut :

Mengembangkan dan memantapkan sistem kelembagaan fakultas sehingga mampu mendukung kinerja civitas akademika secara sinergis.

Menyelenggarakan pedidikan dan pengajaran untuk menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan dan memantapkan konsep-konsep pendidikan sesuai program studi masing-masing.

Mengembangkan budaya meneliti bagi civitas akademika untuk meningkatkan jumlah dan mutu penelitian.

Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sinergis dengan program pendidikan dan penelitian serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.


--------------------------------------------------------------------------------

Tujuan
Visi dan misi FIP UNY diatas dijabarkan dalam bentuk tujuan-tujuan :

Meningkatkan efektifitas sistem kelembagaan Fakultas Ilmu Pendidikan agar tercipta iklim yang kondusif, sehingga mampu mendukung kinerja civitas akademika.

Menghasilkan lulusan yang berkualitas unggul dalam bidang ilmu maupun praktik pendidikan.

Menghasilkan penelitian yang mendukung pengembangan ilmu dan penerapannya dalam pendidikan.

Mendayagunakan sumber daya fakultas dalam program layanan dan pengabdian kepada masyarakat yang relevan dan sinergis dengan pendidikan dan penelitian.